TenagaSurya

Menanti Program Insentif Pemerintah dalam memasyarakatkan Sel Surya (Bagian 2)

Posted in Solar Panel by TenagaSurya on July 22, 2009

Menanti program insentif pemerintah dalam memasyarakatkan sel surya (Bagian 2-Habis) Pemerintah dalam kaitannya dengan usaha penekanan harga sel surya dapat mengadopsi dengan sedikit penyesuaian beberapa langkah umum yang terbukti jitu dalam mengatasi harga sel surya yang dirasakan mahal. Ke depannya, harga sel surya diproyeksikan mendekati US$ 1 / Watt agar penetrasi sel surya ke masyarakat jauh lebih dalam, baik dengan program insentif maupun dengan meningkatkan jumlah produksi sel surya serta memacu efisiensi dengan aktifitas riset. 1. Subsidi. Langkah pertama yang dilakukan ialah menerapkan subsidi untuk menekan harga sel surya. Subsidi ini seperti jamaknya subsidi pada BBM yang ada. Meski demikian, jika melihat program subsidi di negara-negara semacam Jepang dan Korea, subsidi diberikan langsung kepada produsen sel surya maupun pembuat perangkat pendukung Balance of System (BOS) ( lihat artikel Menakar Harga Sel Surya ) . Jika harga asli sel surya lengkap ialah 8-10 US$/Watt, maka dengan subsidi, sel surya beserta BOS dapat terjangkau oleh masyarakat. Sebagai contoh, di Jepang, ketika program pemasyarakatan sel surya pertama kali didengungkan di tahun 1996 ( New Sunshine Project), pemerintah setempat memberikan subsidi sebesar 50 % bagi industri sel surya bagi produk sel surya untuk perumahan. Subsidi ini diturunkan di tahun-tahun berikutnya, yakni menjadi 33 % (1999) , 25 % (2000) , 15 % (2001) dan kurang dari 10 % di tahun 2002. Keberhasilan dari program ini ialah terjadinya booming pemakaian sel surya di Jepang yang membawa masyarakat negeri Matahari Terbit ini memimpin pemakaian sel surya, yakni sebesar 35 % dari total produksi sel surya dunia di tahun 2000 [1 ]. Begitu pula Korea yang sejak tahun 2004 mencanagkan program energi terbaharukan. Saat ini, pemeritah memberikan subsidi kepada industri sel surya sebesar 70 % agar harga sel surya di Korea menjadi murah. Ini belum ditambah dengan paket-paket menarik dari industri sel surya Korea bagi konsumen sejak dari perencanaan dan pemasangan bebas biaya hingga diskon, yang menjadikan harga sel surya untuk aplikasi perumahan menjadi hanya 10 % dari harga sebenarnya (lihat tulisan Ramai-ramai membangun hunian swadaya energi ) [ 2 ]. Penerapan subsidi sebagaimana di Jepang atau Korea akan lebih efektif jika di negara tersebut terdapat industri sel surya, baik apakah itu pembuatan, assembly , maupun industri BOS-nya untuk keperluan BIPV. Hal ini mengingat salah satu tujuan dari subsidi ini disamping memasyarakatkan sel surya, juga untuk merangsang industri sel surya untuk tumbuh dan berkembang. Jika masih mengandalkan impor seperti Indonesia, maka subsidi ini akan dinikmati oleh negara pengekspor sel surya. Sebaliknya, jika orientasinya ialah rural electrification , maka pemerintah dapat memberikan subsidi bagi daerah atau desa yang menerima bantuan sel surya berupa pembebasan dari pembelian sel surya berikut perangkat, maupun dengan hanya membebani masyarakat pedesaan dengan tariff listrik yang jauh di bawah normal. Sebagai contoh, pilot project jenis subsidi pemerintah dalam menggunakan sel surya untuk rural electrification di desa Sukatani, Jawa Barat sebagai salah satu proyek perintis penggunaan sel surya di pedesaan pada tahun 1988 [3 ]. Sebanyak 80 rumah dan 15 penerangan jalan telah didukung oleh sel surya yang dikenal dengan Solar Home System, dengan daya terpasang masing masing sistem 80 Watt. Melalui program subsidi rural electrification di Sukatani, warga pengguna sel surya hanya perlu membayar down payment Rp. 50 ribu per sistem dengan tariff listrik sekitar Rp 4 ribu/bulan. Ini jauh lebih murah dari rumah di pedesan tetangga yang tidak disuport oleh SHS yang harus membayar tarif listrik bulanan sebesar Rp. 13 ribu rupiah ( data dilaporkan tahun 1996 , lihat Referensi 3 di akhir artikel). Melalui program ini, antara tahun 1988 hingga 1996 , dilaporkan bahwa di daerah pedesaan atau pedalaman Indonesia, telah berhasil dipasang sekitar 50 ribu SHS. Patut disayangkan, krisis multidimensi 1997-1998 telah menunda program rural electrification dengan sel surya ini dari target awal yakni 1 juta SHS untuk daerah pedalaman. Sehingga turut berpengaruh terhadap kapan berlakunya kebijakan pemerintah dalam memanfaatkan sel surya khususnya bagi pedalaman. 2. Feed-in tariff Definisi umum f eed-in tariff ialah harga yang dibayarkan oleh perusahaan listrik negara ketika membeli listrik dari pembangkit listrik jenis energi terbaharukan dengan harga yang ditetapkan oleh pemerintah setempat. Feed-in tariff ini merupakan insentif lain yang bertujuan untuk meningkatkan pemakaian listrik yang bersumber dari energi terbaharukan, salah satunya sel surya. Ilustrasi dari penerapan feed-in tariff ini memakai Korea sebagai contohnya yang kebetulan penulis pernah melihat sendiri. Jika seorang konsumen memasang sel surya di kediamannya melalui konsep BIPV, ada dua cara dalam mengoptimalkan pemakaian sel surya tersebut. Pertama , memakai listrik yang dibangkitkan dari sel surya untuk kebutuhan sehari-hari, dan kedua “ menjual” listrik yang dibangkitkan oleh sel surya tersebut ke perusahaan listrik setempat atau ke tempat lain. Pemakaian jenis pertama ialah pemakaian umum dari sel surya, sedangkan pemakaian cara kedua dilakukan mengingat ketika sel surya beroperasi pada saat pagi-petang, tidak semua listrik yang dibangkitkan oleh sel surya dapat disimpan di baterei atau dipergunakan untuk menjalankan perkakas elektronik. Sehingga pada siang hari, biasanya terdapat kelebihan pasokan listrik yang melebihi kapasitas simpan baterei atau pemakaian di rumah. Kelebihan listrik inilah yang dapat dimanfaatkan untuk memasok listrik perumahan/daerah lain atau dijual ke perusahaan listrik setempat dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah ( feed-in tariff ). Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan ialah, adanya infrastruktur yang memungkinkan masyarakat pengguna sel surya untuk menjualnya ke perusahaan listrik semisal PLN. Rumah dengan konsep BIPV diberikan koneksi ke jaringan listrik setempat, bukan untuk mengambil listrik dari PLN melainkan untuk mengalirkannya (atau “menjual” ) listriknya ke PLN (lihat gambar di bawah). Infrastruktur ini disebut dengan net metering yang memungkinkan adanya pengukuran berapa besar listrik (dalam kWh) yang dijual oleh BIPV ke perusahaan listrik. Penulis melihat bahwa sistem net metering ini sangat sederhana; adanya meter atau pengukur besar listrik yang digunakan jamaknya metering listrik PLN di rumah-rumah, hanya saja bukan mencatat berapa besar pemakaian listrik, melainkan mencatat berapa besar listrik yang telah dijual. Akhir bulan, perusahaan listrik akan membayar ke pengguna BIPV. Di Korea (dan negara-negara yang telah menerapkan feed-in tariff ), hal ini dimungkinkan karena kebijakan dan infrastrukturnya memadai. Untuk pengguna sel surya di negara-negara yang telah menerapkan program insentif berupa feed-in tariff ini, semakin banyak kemudahan yang diberikan oleh pemerintahnya dalam membeli dan memanfaatkan sel surya selain mendapat subsidi di atas. Contoh keberhasilan program insentif ini ialah adanya booming sel surya di Jerman dari hanya 1 MW saja di tahun 1998 hingga 75 MW di tahun 2001 dikarenakan adanya insentif ini, berbeda dengan Jepang yang lebih memilih jalan No. 1 di atas [1 ]. 3. Kredit Berdasarkan temuan di negara-negara berkembang, hanya 2-5 % yang benar- benar dapat membeli sel surya sesuai dengan harga aslinya. Sedangkan lebih dari 50 % calon konsumen sel surya yang dapat membeli sel surya jika adanya bantuan pendanaan dari pihak ketiga ( third-party financing ) seperti bank misalnya [1 ]. Perumpanaan dari program insentif ini ialah kredit perumahan mauapun kredit kendaraan bermotor dengan jangka waktu tertentu. Hal ini dimaksudkan agar harga sel surya beserta BOS-nya dapat segera dinikmati dengan investasi awal yang tidak memberatkan. Hampir mirip dengan kredit perumahan ataupun kendaraan yang sudah umum di masyarakat, dalam program ini disamakan dengan komoditas dengan pembayaran cicilan, dalam jangka waktu tertentu, serta dengan tingkat bunga tertentu. Biasanya, program kredit sel surya ini disertai dengan program feed-in tariff sehingga waktu pelunasan kredit terbantukan dengan adanya pemasukan dari penjualan listrik dari rumah ke perusaaan listrik yang pada akhirnya mempersingkat masa pembayaran atau meringankan pengeluaran. Program ini sudah cukup mapan ditemui di AS (negara bagian California) maupun Uni Eropa semisal, Jerman, Belanda, Perancis Spanyol dsb. Program jenis kredit terbukti tidak hanya merangsang pemakaian sel surya maupun investasi di bidang industri sel surya, namun juga memunculkan sebuah pasar kredit baru di bidang energi yang melibatkan lembaga perbankan. Kredit pembelian sel surya sampai saat ini mampu menjadi salah satu lahan penyaluran kredit di negara-negara yang disebutkan di atas. Di negara berkembang, program kredit ini baru tercatat telah dikembangkan salah satunya oleh Bangladesh dengan tujuan untuk memberdayakan masyarakat pedesaan atau daerah terisolir jaringan listrik. Grameen Bank yang didirikan oleh Prof. Mohammad Yunus, keduanya meraih Nobel Peace Prize 2006 , melalui salah satu unit usahanya Grameen Shakti telah jauh-jauh hari memberikan bantuan baik kredit maupun teknis kepada konsumem sel sel surya di pedesaan melalui program rural electrification . Kredit yang disalurkan mampu meringankan biaya sel surya sebesar 75-85 %, dan dengan waktu pelunasan kredit dalam jangka waktu 2-3 tahun dengan bunga kredit sebesar 8-12 % [1 ]. Saat ini, telah diperhitungkan bahwa penggunaan sel surya di daerah pedesaan meningkatkan kualitas hidup di pedesaan-pedesaan Bangladesh salah satunya melalui program kredit ini [4 ]. Sebagai penutup, beberapa contoh kebijakan di atas sengaja diambil sebegai sampel langkah-langkah apa saja yang perlu diambil pemerintah jika serius memperhatikan pemanfaatan energi alternatif dalam menjawab bebeapa persoalan energi di tanah air, wa bil khusus yang berkaitan dengan teknologi sel surya bagi masyarakat luas. Penulis sendiri yakin bahwa beberapa instansi terkait sudah mengkaji banyak alternatif kebijakan yang paling cocok diterapkan di Indonesia. Hanya saja mungkin tidak terekspos ke luar dikarenakan satu atau lain hal. Satu hal yang tidak mungkin penulis lewati. Bukan subsidi atau kredit atau program apa-lah yang menarik perhatian penulis sehingga harga sel surya atau energi alternatif lain menjadi murah meriah dan berpotensi dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Melainkan dibalik itu semua, energi tidaklah murah –kalau tidak mau disebut mahal. Darimanapun energi itu berasal, apakah itu dari fosil, PLTA, PLT Nuklir, PLT Batubara atau sel surya dan sebagainya, dapat menjadi murah karena banyak faktor atau kebijakan negara yang mejadikan energi itu terjangkau sehingga banyak dinikmati. Namun demikian, masih ada saja pihak lain yang masih merasakan bahwa energi terutama listrik hanyalah merupakan sebuah kemewahan akibat sulitnya ia diperoleh. So, cerdas-cerdaslah dalam pemakaian energi, optimalkan pemakaiannya atau pergunakan sehemat mungkin, karena mahal. Rujukan [1 ] Antonio Luque, Steven Hegedus, Handbook of Photovoltaic Science and Engineering , John Wiley and Sons, 2003. [2 ] Perbincangan dengan Prof. Jae-sung Lee, Departement Bioindustry Yeungnam University, konsumen panel surya untuk BIPV. Artikel lengkap tentang Referensi ini dapat dilihat di artikel Ramai-ramai membangun hunian swadaya energi yang menggambarkan aplikasi BIPV di Korea. [3 ] A.H.M.E. Reinders, Pramusito, A. Sudradjat, V.A.P. van Dijk, R. Mulyadi, W. C. Turkenburg, Sukatani revisited: on the performance of nine-year-old solar home systems and street lighting systems in Indonesia , Renewable and Sustainable Energy Reviews 3 (1999) Hal. 1-47. [4 ] Wahidul K. Biswas, Mark Diesendorf, Paul Bryce, Can photovoltaic technologies help attain sustainable rural development in Bangladesh? Energy Policy 32 (2004) Hal. 1199 –1207 Tulisan ini dikirim pada pada Senin, Januari 14 th, 2008 3 :11 pm dan di

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. TenagaSurya said, on July 22, 2009 at 9:24 am

    SOURCE:..: Sel Surya-Teknologi pemanfaatan energi terbaharukan:..
    Dengan pesan:
    Terima kasih atas kunjungannya. Mohon jadikan dan sebarkan Blog EnergiSurya.wordpress.com ini sebagai salah satu sumber referensi informasi Sel Surya.
    ¤Jan.14,2008:Menanti program insentif pemerintah dalam memasyarakatkan sel surya (Bagian 2-Habis)«EnergiSurya.wordpress.com
    Post lain:

    548§

  2. TenagaSurya said, on July 22, 2009 at 10:09 am

    ¤

  3. scholarships for moms said, on November 6, 2010 at 3:02 pm

    I wish I found tenagasurya.wordpress.com before ! Your site is very informative, thanks.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: